Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Namaku Stefani Mariana

Waktu kecil aku sempet gak pede sama namaku. Saat ditanya orang "namamu siapa?" terus mau gak mau kan aku jawab "Stefani," tapi entah kenapa aku merasa malu & aneh nyebut nama sendiri (aneh banget kan pemikiranku itu, padahal kan gak mungkin kalo aku jawab "Stella" / "Marion" atau nama lain yang bukan nama asliku). Jadi pas kecil, kalo diajak ke pesta atau ketemu sama temen papa-mama ku, aku sering diem/malu-malu kalo ditanya "nama kamu siapa?". Sempet aku ditegur mama papaku gara-gara gak jawab kalo ditanya orang soal namaku, "Kenapa sih kamu? Udah dikasih nama modern kok gak pede. Kamu mau namamu diubah jadi Inem/nama-nama jaman dulu?!"(gak bermaksud menghina orang yang namanya kayak gitu*peace*) Sejak saat itu aku sadar, mestinya aku bersyukur dikasih nama modern dan jarang orang yang namanya Stefani, paling sering namanya Stephanie. Pas SD ada 2 temen yang namanya Stephanie, pas SMP ada yang namanya Stefanie & S...

Natal Charlotte

"Bentar lagi 25 Desember. Natal ku yang ke 12, natal yang ke 2 tanpa kakak. Kak Lin pasti senang di London, mungkin di sana lebih meriah & seru. Ahh.. senangnya bisa merasakan White Christmas.." pikir Charlotte sambil membayangkan betapa asiknya menikmati salju dan dapat melihat berbagai hiasan Natal warna-warni. Sebenarnya, sudah sejak kelas 2 Charlotte ingin ke Eropa saat bulan Desember supaya ia bisa bermain salju dan melihat kerlap-kerlip kota disana menyambut Natal. Kakaknya, Elina, berhasil mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri jurusan sastra bahasa Inggris.  Sejak SMP, Elina sudah belajar keras untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Elina pernah berkata pada Charlotte kalau ia bercita-cita menjadi menteri luar negeri atau duta atau mungkin menjadi guru Bahasa Inggris yang sabar sehingga dapat meningkatkan kualitas bahasa Inggris rakyat Indonesia, tidak seperti guru Bahasa Inggris SD dan les-lesan nya yang cenderung galak dan kurang dapat mengerti perasaan ...

The Magic Bonsai

[PART 1] "Kenapa Dengan Bonsai itu?" Sabtu pagi. Seperti biasa, Verin berjalan dengan wajah cemberut dan tangannya mengepal seperti ingin menghantam sesuatu bahkan seseorang. Selama menyusuri lorong lantai 2, wajahnya penuh dendam. Wajar saja, telinganya yang kecil itu baru mendengar kata-kata yang menusuk bagai pisau dari si gadis tinggi, Evy. "Hei, pemurung! Pergi sana!! Nanti kau mematahkan semangat kami dengan wajahmu yang cemberut itu! Lebih baik kamu keluar kelas dulu buat refreshing. Bosan aku melihatmu yang tak pernah ceria!" Kata-kata itu berdenting keras dalam hati Verin seperti bunyi jam yang menunjukan sudah pukul 12 malam pada Cinderella. Saat menangis di depan kelas 9 Bonsai -sebutan kelas 9B, tak sengaja ia melihat seberkas cahaya dari bonsai yang menjadi ikon kelas 9B. "Apa itu? Apa hanya halusinasiku saja ya?? Hmm..sudahlah. Mungkin itu gliter atau mungkinkah itu  kaca tersembunyi? Hish.. entahlah. Bukan urusanku," kata Verin da...